Teratas Bulan Purnama, Ini Penjelasan LAPAN

puncak-bulan-purnama-ini-penjelasan-lapan-1

BANYAK orang menganggap bahwa pucuk Bulan Purnama selalu lepas di malam ke-15 penanggalan Hijriah. Benarkah demikian?

Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Andi Pangerang menjelaskan mencuaikan unggahan akun Instagram sah LAPAN.

 

Dimulai dari Penanggalan Hijriah, merupakan penanggalan yang digunakan oleh umat Islam yang mana sistemnya didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi.

Fenomena yang digunakan untuk menandai tanggal satu setiap bulannya adalah terlihatnya Bulan sabit muda dengan sangat tipis, lazim dikenal hilal, beberapa saat setelah Matahari terbenam.

“Selang waktu dari Bulan Baru ke Bulan Hangat berikutnya berkisar antara 29 hari 5, 5 jam hingga 29 hari 20 jam, ” tulisnya.

Inilah yang melaksanakan terkadang umur bulan di penanggalan Hijriah terkadang 29 hari, terkadang 30 keadaan, terkadang berselang-seling 29 serta 30 hari, terkadang dua bulan berturut-turut 29 keadaan dan terkadang dua kamar berturut-turut 30 hari.

Kemunculan hilal sendiri rata-rata 15 jam sesudah fase Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dibanding Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis rata-rata 14 hari 18, 4 tanda.

Jadi, semasa selang waktu dari Bulan Baru astronomis ke Purnama astronomis lebih kecil lantaran rata-ratanya, maka purnama astronomis akan jatuh pada suangi ke-14.

Namun jika selang waktu lantaran Bulan Baru astronomis ke Purnama lebih besar lantaran rata-ratanya dan selang zaman dari Bulan Baru astronomis hingga kemunculan hilal bertambah kecil atau sama dengan rata-ratanya, maka purnama astronomis akan jatuh pada suangi ke-16.

(DRM)