Praktik iWareBatik Dilengkapi Teknologi Kecerdasan Rekaan

Praktik iWareBatik Dilengkapi Teknologi Kecerdasan Rekaan

JAKARTA – Mahasiswi Indonesia pada Universitàs della Svizzera Italiana (USI), Swiss bekerjasama dengan UNESCO meluncurkan aplikasi iWareBatik. Aplikasi ini berniat untuk menjadi arsip digital Menggambar sebagai warisan budaya tak barang, dikutip Setkab. go. id.

Aplikasi iWareBatik bermanfaat berjalan mengidentifikasi tekstil Batik, nilai-nilai filosofis di balik motifnya, tempat pokok dan informasi-informasi lain yang relevan dengan Batik tersebut. iWareBatik diluncurkan dalam bentuk laman iwarebatik. org dan aplikasi ponsel pintar positif pada 17 Agustus 2020.

Tersedia 100 lebih motif Batik sudah terdokumentasikan, dan masih akan terus diperkaya lagi dengan motif-motif Batik lainnya. Aplikasi ini juga dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang memungkinkan para pengguna mengetahui motif batik dengan mengambil foto kain batik yang padahal dipakai.

Mematok saat ini, aplikasi tersebut sanggup mengidentifikasi beberapa motif batik, yakni merak, kawung, ampiek, parang, dan akan dikembangkan lebih lanjut dalam masa yang akan datang.

Puspita Manis Permatasari, Koordinator Riset Teknologi Komunikasi iWareBatik untuk Batik Indonesia, mengirimkan filosofi dibalik iWareBatik yaitu “I am aware of Batik“.

“Melalui aplikasi ini, kami berharap orang-orang tidak cuma memakai batik (wear) tapi serupa memahami (aware) makna batik dengan sedang dipakai, ” jelasnya.

Sebagai informasi, Puspita kini tengah menekuni Teknologi Keterangan Komunikasi (TIK) untuk Warisan Adat Tak Benda dan Pariwisata jadi fokus studi S3-nya di USI.

Baca selalu:   Mengenal Istilah NFC di dalam Smartphone Android

Fitur peta interaktif juga tersedia pada aplikasi ini, sehingga orang-orang dapat mengetahui motif Batik yang khas dari masing-masing provinsi dalam Indonesia.

“Harapannya, orang-orang yang berkunjung ke Indonesia, misalnya ke Kalimantan Selatan, ataupun Maluku, atau provinsi mana saja, bisa mengetahui motif Batik dengan khas dari daerah tersebut, sebelum memutuskan membeli batik apa dengan dijadikan souvenir, ” lanjut Puspita.

Dalam jalan pengembangan aplikasi ini, Puspita & tim USI juga melakukan konsultasi intens dengan pihak KBRI Bern.

(ahl)