Pengkaji Temukan Populasi Hiu Karang Redup 19%

Pengkaji Temukan Populasi Hiu Karang Redup 19%

JAKARTA – Salah satu predator terkenal pada bumi adalah ikan hiu. Keberadaannya juga cukup ditakuti oleh sebagian besar manusia, terutama mereka dengan mencintai laut. Namun tahukah Anda? Kini hiu “tidak sekuat” dahulu – meski tetap menyeramkan.

Dilansir Science Magazine , sebuah proyek besar bernama Global FinPrint sudah menemukan kenyataan bahwa jumlah hiu karang telah berkurang setidaknya sebesar 19%, atau dapat dikatakan saat ini hanya empat per lima dibanding mereka yang tersisa di bumi. Terkesan cukup banyak, namun dalam dasarnya hal ini cukup merusuhkan.

Global FinPrint diciptakan sekitar 5 tahun lalu oleh Mike Heithaus dan Demian Chapman yang merupakan ahli biologi kelautan dari Florida International University. Tak hanya mereka, sekitar 120 ilmuwan lainnya juga turut serta di survey ini, di mana mereka memasang kamera video pada kedalam 1, 5 meter di 371 terumbu tropis yang tersebar pada 58 negara. Kamera video tersebut terpasang setidaknya selama tiga tahun untuk merekam pergerakan hiu karang, meliputi hiu harimau dan martil.

Dari hasil tangkapan video, para ilmuwan menjumpai fakta bahwa pada 69 terumbu karang yang tersebar, tidak terlihat satupun ikan hiu. Dilansir Forbes, hilangnya hiu ini dinyatakan sebagai kepunahan fungsional dan mereka benar langka di beberapa daerah beserta tidak dapat memenuhi perannya pada ekosistem. Adapun di wilayah Republik Dominika, Hindia Barat Prancis, Kenya, Vietnam, Pulau Windward di Antillen Belanda, dan Qatar secara keseluruhan tidak ditemukan lebih dari 3 ikan hiu.

“Alasan spesifik untuk kurangnya deteksi hiu di masing-masing letak ini mungkin bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Setiap negara dan setiap wilayah menghadapi tantangan tersendiri. Sebagai generalitas yang luas, hilangnya hiu seperti ini kemungkinan timbul dari penangkapan ikan yang berlebihan atau kurangnya peraturan yang dipaksakan. Kemungkinan penyebab yang lain adalah kondisi terumbu karang dengan buruk atau rusak; jika terumbu karang tidak memiliki komunitas dengan sehat, populasi hiu dapat menurun (misalnya, jika tidak ada cukup mangsa untuk mereka). Kemungkinan ini tidak saling eksklusif – kurang tempat menderita semua masalah ini pada saat yang serupa, ” cakap Michael Berumen, Profesor Ilmu Bahari di Universitas Sains dan Teknologi King Abdullah (KAUST), dikutip Forbes.

Meski demikian, beberapa harapan masih tersedia buat spesies satu ini. Setidaknya kaum negara seperti Bahama, Amerika Konsorsium, Australia, Negara Federasi Mikronesia, Polinesia Prancis, dan Maladewa masih memiliki jumlah populasi yang cukup banyak. Sebagaimana yang dikatakan oleh Berumen, hal ini diakibatkan oleh sistem perlindungan hukum yang cukup cara. Negara-negara yang masih memiliki warga hiu karang umumnya menetapkan pola dilindungi atau pelarangan penangkapan ikan hiu, salah satunya Bahama yang melarang penangkapan selama 30 tarikh.

Baca pula: Ini Tanda-Tanda Kiamat dalam Penjelasan Alquran dan Sains

Melihat fakta ini, temuan lain yang dihasilkan oleh para ilmuwan itu adalah solusi mencegah kepunahan. Menurut mereka, mengurangi maut hiu karang menjadi cara yang paling penting, mengingat sebagaimana BBC melaporkan setidaknya 100 juta ikan hiu dibunuh setiap tahunnya, total inilah yang harus dikurangi. Tetapi hukum perlindungan tidak benar-benar sanggup berlaku efektif di seluruh negara, meski demikian terdapat beberapa cara lain yang dapat dilakukan.

Mike Heithaus ada, selain menetapkan suatu wilayah menjadi kawasan lindung atau suaka – yang mana hal ini bisa melindungi 50% populasi di suatu negara dibandingkan mereka yang tidak melakukannya – setiap negara pula dapat menerapkan opsi manajemen lain meliputi pelarangan insang, mengganti metode pancing, dan menetapkan batas tangkapan. Opsi-opsi ini dapat dilakukan secara kombinasi atau hanya salah kepala bergantung dengan kebijakan setiap negara, namun yang jelas dari ketiganya harus dilakukan guna mencegah kepunahan.

Adapun untuk saat ini, meski temuan sudah ditemukan dan proyek berakhir, para peneliti berencana untuk melanjutkan agenda tersebut untuk melakukan penelitian tambahan. Data Global FinPrint rencananya hendak digunakan untuk meneliti peran ekologis hiu dan kondisi terumbu jalin di masa depan (dalam perihal terburuk) jika hiu karang habis.

(ahl)

Loading…